Waktu Tak mungkin bisa ku hentikan, tak terasa pundakku terpikul mati
Ketika kau berikan api terasa bakar raga
Ketika kau berikan salju bekukan kalbu
Kau berikan dusta ketika ku mendaki bukit terjal nan tak berujung
Tak sadarkah kau tunjukku layak nyonya besar,kilau permata buat mu silau
Ketika berjalan Baju sobek dan kaleng rombeng terlihat dimatamu
Apapun yang kau liat kini terasa kapas,ku coba selaras tapi ku tak mampu
Berlian itu terlihat seringan kapas, sutra itu membuat mempesona tak bertepi
Sungguh kau mapan tak berpijak, hatimu penuh lumut yang menutup nurani
Maumu jadi mauku, ketika suaramu berderik ku selalu mencoba disampingmu
meskipun lelah kantuk selalu ku kandung.......
Lelah mu menjadi lelahku, jatuhmu selalu menjadi jatuhku, tangismu adalah tangisku,
Rintihanmu selalu jadi rintihanku tapi bahagimu bukan bahagiku...
ku hanya pinta sabar dan senyummu, ku tau mamamu berkehadak lain..... tapi cobalah
bersujut kembali tuhan mungkin punya jawaban lain.....
Pahitpun itu ku tersenyum
Kamu tak tahu rasanya hatiku
MyLifestillRunning
About human being, life, entertainment, hobby, traveling
Selasa, 25 Juni 2013
Waktu itu terasa Pendek
Terdiam

Berpikir untuk menatap hati
terdiam ketika hati berapi
berusaha berikrar ketika meratapi
berdiam untuk mendapatkan hati
terasa berbeda ketika berdiam
melihat apa adanya terasa suram
semua terasa sempurna hanya semalam
curahkan hati gapai sebuah jeram
telusuri lorong berujung duka
titian hati hendak berpaling dalam gelap
terasa perih ketika menatap kedepan
usaha menggapai hati balas muram
deraan ombak terasa tak berujung
rasa hentikan waktu tak terkandang
terasa berat meninggalkan hari indah tak terbendung
berdoa tiap hari semoga hari esok tak kunjung datang
10 Operator Terlalu Banyak, Idealnya Berapa?
Indonesia yang dijejali dengan 10 operator telekomunikasi diakui sudah
terlalu banyak dan menghabiskan sumber daya frekuensi dan blok
penomoran. Lantas idealnya berapa?
Jika ditanya ke para pemangku kebijakan telekomunikasi di industri seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), keduanya sepakat menjawabnya empat.
"Idealnya jumlah operator GSM cukup tiga saja, sementara CDMA cukup satu. Buat apa banyak-banyak," kata Muhammad Budi Setiawan, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika Kementerian Kominfo, dalam acara IndoTelko Forum di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (25/6/2013).
Sementara Ketua Umum ATSI Alex Janangkih Sinaga mengatakan, jika jumlah 10 operator ini tidak berkurang dalam waktu 10 tahun ke depan, maka industri telekomunikasi di Indonesia bisa makin krisis.
"Bisa makin banyak yang jadi korban, kecuali ada inovasi baru yang bisa dimunculkan. Jalan lainnya adalah konsolidasi antar pemain industri," kata Alex yang juga Direktur Utama Telkomsel.
Seperti diketahui, Indonesia bisa dikatakan sebagai salah satu negara yang mengalami pertumbuhan paling cepat di industri seluler dunia. Negeri ini tercatat menempati posisi keempat di Asia setelah China, Jepang, dan India soal pertumbuhan seluler.
Kementerian Kominfo mencatat selama periode 2006-2010, pertumbuhan pengguna seluler di Indonesia rata-rata mencapai 31,9% per tahun dengan jumlah penyelenggara telekomunikasi terbanyak di dunia, 10 operator dengan teknologi GSM dan CDMA.
Operator tersebut antara lain Telkomsel, Telkom, Indosat, XL Axiata, Hutchison 3 Indonesia, Axis Telekom Indonesia, Smart Telecom dan Mobile-8 Telecom (Smartfren), Sampoerna Telecom, serta Bakrie Telecom.
Di satu sisi, banyaknya jumlah pemain membawa dampak positif terhadap penurunan tarif. Namun di sisi lain, terlalu banyaknya operator membuat sumber daya frekuensi untuk berkembang jadi terbatas. Sementara pasar juga telah memasuki era saturasi.
"Terlebih sekarang penetrasi teledensitas sudah menembus 120% dengan coverage 95% populasi penduduk
Jika ditanya ke para pemangku kebijakan telekomunikasi di industri seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), keduanya sepakat menjawabnya empat.
"Idealnya jumlah operator GSM cukup tiga saja, sementara CDMA cukup satu. Buat apa banyak-banyak," kata Muhammad Budi Setiawan, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika Kementerian Kominfo, dalam acara IndoTelko Forum di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (25/6/2013).
Sementara Ketua Umum ATSI Alex Janangkih Sinaga mengatakan, jika jumlah 10 operator ini tidak berkurang dalam waktu 10 tahun ke depan, maka industri telekomunikasi di Indonesia bisa makin krisis.
"Bisa makin banyak yang jadi korban, kecuali ada inovasi baru yang bisa dimunculkan. Jalan lainnya adalah konsolidasi antar pemain industri," kata Alex yang juga Direktur Utama Telkomsel.
Seperti diketahui, Indonesia bisa dikatakan sebagai salah satu negara yang mengalami pertumbuhan paling cepat di industri seluler dunia. Negeri ini tercatat menempati posisi keempat di Asia setelah China, Jepang, dan India soal pertumbuhan seluler.
Kementerian Kominfo mencatat selama periode 2006-2010, pertumbuhan pengguna seluler di Indonesia rata-rata mencapai 31,9% per tahun dengan jumlah penyelenggara telekomunikasi terbanyak di dunia, 10 operator dengan teknologi GSM dan CDMA.
Operator tersebut antara lain Telkomsel, Telkom, Indosat, XL Axiata, Hutchison 3 Indonesia, Axis Telekom Indonesia, Smart Telecom dan Mobile-8 Telecom (Smartfren), Sampoerna Telecom, serta Bakrie Telecom.
Di satu sisi, banyaknya jumlah pemain membawa dampak positif terhadap penurunan tarif. Namun di sisi lain, terlalu banyaknya operator membuat sumber daya frekuensi untuk berkembang jadi terbatas. Sementara pasar juga telah memasuki era saturasi.
"Terlebih sekarang penetrasi teledensitas sudah menembus 120% dengan coverage 95% populasi penduduk
Minggu, 23 Juni 2013
Langganan:
Postingan (Atom)